Guru di Mata Alumni

teacher-and-student.png

 

Peranan seorang guru disekolah tentu saja menjadi bagian penting akan keberadaan kita dimasa depan. Murid dan Guru seakan-akan sudah ditakdirkan untuk mempunyai hubungan Love – Hate yang abadi.

Lumrah dijaman kita bersekolah, untuk tidak menyukai sosok guru walau ada juga yang memuja sosok guru pengajar. Akan keluar beribu satu alasan untuk menyukai sosok tersebut dan begitupula sejuta satu alasan untuk tidak menyukainya bahkan mungkin hingga membencinya.

Terkadang tidak ada alasan yang logis, dijaman kita bersekolah ada beberapa sosok guru seakan-akan untouchable walau ada juga yang berusaha menempatkan diri mereka selayaknya teman. Ditulisan ini saya mencoba merangkum kesan-kesan alumnus mengenai guru – guru disekolah. Ide tulisan sendiri berasal dari obrolan ngalur ngidul di grup WA dimulai dari cetusan Ibu Ketut Ratnayani yang kemudian saya bawa ke grup FB dan mengajak teman-teman untuk berbagi.

Tulisan ini bukanlah untuk membawa kita kemasa-masa kelam jika ada tetapi lebih untuk mengingat kembali bahwa tanpa kita sadari pengalaman kita akan guru-guru tersebut secara tidak langsung mempengaruhi masa depan kita. Entah itu guru killer, non tolerant atau bahkan baik sekalipun.

f5cabd4fd2366dead11e7a4a927c2040_school-subjects-clip-art-school-subject-clipart-free_400-297

 

Tengoklah hubungan Love & Hate saya dengan guru bahasa Inggris Bapak Nyoman (Nengah? ) Telas dimulai dari kelas 2. Saya kebetulan menyukai pelajaran bahasa Inggris tetapi Pak Telas (begitu saya menyebutnya) bukanlah guru yang gampang untuk disenangkan. Saya ingat betapa kecewanya saya saat di laporan akademis yang saya terima mendapatkan nilai 5 di rapor! Padahal seingat saya, saat itu mungkin saya murid yang paling aktif secara verbal (Communication skill) dan mungkin salah satu yang terbaik. Tetapi nilai akademis tentu saja tidak hanya bergantung kepada kecakapan verbal, karena sebagai murid yang masih mengikuti kurikulum mau tidak mau kita harus tunduk akan komposisi penilain. Ini saya pahami sekarang, dulu? boro-boro… kekesalan saya mengaburkan logika saya yang ada saya merasa saya membencinya, walau untungnya pelajaran bahasa Inggris tetap menjadi salah satu pelajaran kesukaan saya selain pelajaran Bahasa Indonesia.

2a0e2e28a88362733b3ff8d69f6f22ac_school-subjects-clip-art-school-subject-clip-art_300-226

 

Pelajaran exacta bukanlah kekuatan saya, Matematika, Fisika dan Kimia boleh dibilang tidak begitu mengesankan walalu bukan yang terburuk tetapi saya tahu saya bisa berbuat lebih. Walau tentu saja saya mengingat Pak Nyoman Adiatma (guru matematika) secara baik bahkan jika saya bertemu beliau di usia beliau sekarang.

Berikut ada beberapa kesan guru-guru yang sempat terekam dari perbincangan kami melalui dua flatform media sosial tersebut.

Dimulai dari Ketut Ratnayani yang menyebutkan Bapak Made Arya (Almarhun) sebagai guru bahasa Inggris yang menurut Ibu Ratna mempunyai gaya yang khas dan menarik, begitupula kenangan beliau dengan Bapak Adiatma sebagai guru Matematika. Yang paling dingat dari Ketut Ratnayani dan saya quote disini

Gaya ngajarnya Pak Arya..itu…aduh..khas sekali. Ane paling inget…perbedaan antara Are you like monkey ?? dan Do you like monkey???

Seperti juga Ratna yang mengingat Pak Adiatma, Kadek Heni Wilastri yang sekarang berdomisili di Surabaya pun mempunyai ingatan yang positif mengenai salah satu guru killer kita tersebut. Bahkan Ketut Supiastra yang sekarang menjadi bagian dari abdi negara Dinas Ketenaga Kerjaan dan Transmigrasi di Kupang bahkan dengan semangat menyebut bahwa Pak Adiatma adalah favorite beliau.

boy confused with lots of homework

Berbalik dengan Supiastra, salah satu alumnus SMPN1 Tejakula Dharmaja mempunyai hubungan yang kurang harmonis dengan para guru disekolah. Menurut Dharmaja yang sekarang tinggal di wilayah Denpasar ini tidak satupun para guru berkesan dimata beliau. Bahkan Pak Adiatma sendiri boleh dibilang sebagai salah satu guru yang paling tidak disukai baginya.

Kenangan yang menarik juga datang dari Kadek Ayu Tantri dan Made Yusna mengenai Bapak Wirta guru pengajar kesenian atau lebih tepatnya pengajar kesenian menggambar. Gaya klasik yang beliau ajarkan ke murid mungkin terlalu berat untuk sebagian besar dari kami apalagi seperti saya yang memang tidak berbakat sama sekali dibidang tersebut. Alhasil, hasil karya yang diharapkan beliau ke kami para non artist, sangatlah mengecewakan. Boleh dibilang Pak Wirta adalah salah satu guru pengajar yang lumayan ditakuti bahkan untuk lebih ekstrim lagi ada juga yang membencinya.

Ketut Sudiarthana yang lebih dikenal dengan nama Ketut Bertonx (dengan x bukan dengan g) mempunyai pandangan yang positif dengan Pak Ngartia salah satu guru bahasa Inggris juga ini boleh dibilang sama dengan saya. Terlepas dari kesan beliau yang sedikit tidak perduli, saya sendiri merasa cocok dengan gaya mengajar Pak Ngartia. Bertonx yang menyukai juga mantan guru sejarah Pak Made Sada (almarhum) sekarang bekerja dibidang kepariwisataan, tentu saja pelajaran bahasa Inggris menjadi salah satu dasar yang kelak bisa dipakai.

Sangat menarik memang mendengar kesan dan kenangan teman alumni karena tanpa kita sadari bermunculan nama-nama para guru yang walau mungkin kita ingat tetapi lupa nama-nama beliau.

Siapa yang tidak ingat dengan Ibu Sukemi yang mengajarkan mata pelajaran Kimia dan sempat menjadi wali kelas di kelas 3A dan kebetulan adalah istri dari Pak Ngartia.(sumpah ini saya baru tahu 30 tahun kemudian saat artikel ini ditulis…… terimakasih buat Bertonx, Kadek Dharma dan Dharmaja yang sudah menambahkan info)

Atau guru Pendidikan Agama Hindu Ibu Sarianing (salah satu favorite dari Kadek Heni). Walau pelajaran agama bukanlah favorite saya tetapi yang paling saya ingat dari beliau adalah bertutur kata halus, mungkin juga kulitnya yang agak gelap dibandingkan guru-guru perempuan lainnya.

Atau Ibu Pasek, yang mangajar Biologi? masih ada yang ingat dengan beliau? Atau guru olahraga yang saya lupa namanya? Mungkin juga guru kesenian musik Bapak Dibya yang kalau tidak salah istrinya berjualan disekolah? Atau bahkan Pak Nesa guru Bahasa Bali yang menurut Dharmaja adalah guru yang paling polos? Atau Pak Yasa guru Bahasa Indonesia yang mengajar di kelas 3E mungkin pula di kelas 3D dimana boleh dibilang saya semacam asisten beliau 🙂

Satu-satunya yang paling saya takuti adalah Pak De Gara, beliau bukan guru apalagi kepala sekolah. Beliau adalah salah satu pekerja di ketata usahaan yang boleh dibilang lumayan menakutkan buat saya 🙂 Tidak ada aslan untuk menakuti beliau tetapi entah kenapa paling tidak berani membuat Pak De gara marah entah itu karena datang terlambat, atau parkir sepeda yang kurang pas bahkan jika memakai toilet ..LOL

graphics-student-118345

Terimakasih buat teman-teman yang sudah membagi ceritanya. terutama untuk Ratnayani, Ketut Supiastra, Kadek Heni, Ketut Sudiarthana, Made Yusna, Kadek Dharma, Dharmaja dan mungkin ada juga kontribusi dari beberapa teman yang terlewat. Ada yang terlupa atau kalian ada kenangan mengenai guru-guru tersebut? silahkan berbagi lagi mungkin akan ada artikel bagian kedua.

Untuk lebih lengkapnya silahkan masuk ke Facebook Group “Alumni 87 SMP N 1 Tejakula” bagi yang sudah bergabung dan mempunyai akun facebook. Bagi yang belum bergabung ayo bergabung

Jempol lagi buat Kadek Dharma atas koreksinya 👍🏼👍🏼👍🏼

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s