You’ve Got A Friend

cropped-connecting-people.jpg

Setelah bergabung diwadah Facebook Group dan juga WhatsApp iseng-iseng saya membuat analisa yang tentu saja kebenarannya belum tentu 100% namanya juga analisa pribadi jadi analisa ini boleh dibilang hanya opini pribadi dan tidak mewakili pandangan alumnus.

Saya mencoba mengalkulasikan berapa banyak kira-kira murid kelas satu di medio Juli 1984 yang berjumlah 5 kelas tersebut (kelas 1A hingga kelas 1E). Taruhlah rata-rata murid sekurang-kurangnya 30 orang setiap kelasnya hingga 40 orang maka kita mendapatkan angka dikisaran 150 hingga 200 orang ini hanyalah matematika semata dan tidak mencerminkan ilustrasi yang sesungguhnya. Cukup banyak bukan? Atau jika dikisaran angka 150-200 kita cari titik tengahnya maka kita mendapatkan angka 175 orang.

Sekarang mari kita tengok anggota Facebook Group (FB) yang terdata. Dari data yang saya lihat sesaat sebelum tulisan ini dibuat (11 Feb 2017, 11:42) jumlah anggota yang tercatat adalah 89 orang, dan berapakah kira-kira yang aktif? kurang dari setengahnya. Aktif disini tentu saja tidak selalu harus membuat tulisan atau komentar karena banyak juga silent reader yang saya perhatikan. Memberi tanda suka kesuatu postingan juga bukan berarti dia sudah aktif. Kenapa? ada beberapa postingan yang bersifat hiburan tetapi ada juga beberapa postingan  informasi yang  memerlukan keaktifan anggota, mau tahu apakah itu? coba tengok lagi di FB Group!

Di WhatsApp Group (WA) -pun tidak terlalu jauh berbeda. Jika WA Group mengijinkan beranggotakan dengan jumlah maksimum 256 (konon ada cara yang dapat dilakukan untuk menambah jumlah participant didalam 1 group) saat tulisan ini dibuat anggota yang tercatat berjumlah 39 orang saja atau 50 orang lebih sedikit dari jumlah anggota FB Group, jika matematika saya tepat hanya 40% saja dari jumlah group. Bahkan sangat jaug dibawah jumlah total murid minimum yang 150 orang tersebut.

Ada beberapa alasan kenapa FB group ataupun WA group tidak terlalu aktif dalam artian secara komunikasi informasi. Dibawah ini saya mungkin dapat menganalisa WHY-nya dan mungkin juga alasannya.

Pekerjaan.Dari sekian banyak alumnus saya menganggap sekurang-kurangnya 70% mempunyai pekerjaan tetap dan 20% lainnya mempunyai pekerjaan tidak tetap 10% lainnya adalah discrepancy (bisa saja masuk ke kelompok pekerja tetap dan tidak tetap ataupun tidak ada informasi tambahan) Ingat prosentase tersebut diatas hanyalah ilustrasi semata. Karena kegiatan tersebut tidak banyak yang dapat meluangkan waktunya untuk membaca informasi di group group yang saya sebut diatas. Apalagi tidak adanya informasi resmi dari komite (karena belum terbentuk) sehingga banyak juga yang menganut faham wait and see, which is understandable.

Ritme sosial media.Ritme sosial media yang cepat juga mempengaruhi rasa Koh Ati , karena tiba-tiba saja puluhan atau bahkan ratusan pesan saling tumpuk dimana akhirnya banyak juga jika ada pesan penting akhirnya terabaikan.

Waktu yang terlalu lama. Waktu yang terlalu lama antara tahun kelulusan dan masa sekarang. 30 Tahun! wow mungkin diantara kita sudah ada yang menjadi Kakek atau Nenek, tidak usah jauh-jauh saya sendiri sudah mempunyai sulung yang sebentar lagi berusia 23 tahun. Tentu saja gap yang cukup lebar ini membuat banyak dari kita yang tidak lagi mampu mengenal siapa teman kita? atau siapakah nama mereka? darimanakah mereka berasal? bahkan jika membaca di FB Group ada juga yang masih samar-samar berusaha mengingat -ingat di kelas mana mereka terakhir kalinya, sayapun tidak terkecuali! Usaha untuk melakukan pertemuan dapat dilakukan secara kecil-kecilan untuk menyiapkan diri kita dengan siapa kita bertemu, karena bagaimanapun waktu dapat membuat orang berubah.

Ekonomi.Topik ekonomi memanglah sangat sensitif, banyak yang Kimud karena merasa kurang sukses atau tidak sukses. Percayalah, disaat kita secara jujur hendak bertemu maka status ekonomi bukanlah sesuatu yang menakutkan, jadi jangalah terlalu dibawa kehati. Bukankah akan lebih bagus jika ada diantara saudara-saudara kita yang mampu secara finansial dan juga karir? Mungkin dengan reuni kita bisa mendapatkan informasi berharga, walaupun bukan untuk diri kita mungkin buat anak-anak kita. Saya bisa mengerti bahwa prestige orang jadi bertambah jika mempunyai suatu pekerjaan yang mapan dan sukses secara materi, tetapi hidup seseorang tidaklah selalu harus dihitung dari jenis kendaraan yang dikendarai atau besar rumah yang ditempati. Begitu kita bertemu, segala aksesori dan tetek bengek tersebut tidaklah penting lagi.

Keluarga.Ya salah satu faktor terbesar mungkin karena perubahan status dari dulunya yang lajang menjadi suami/istri atau bahkan sudah mempunyai anak dewasa dan bahkan mempunyai cucu atau juga sudah berpulang (may he/she RIP) .  Percayalah itu adalah siklus hidup jadi sesiapapun dari kita akan menghadapinya. Untuk itu marilah kita saling berusaha untuk mengenal kembali dan siapa tahu mungkin malah ternyata anak-anak kitapun adalah ternyata teman sekolah anak-anak  (wishful thinking)

Untuk itu saya menghimbau para anggota di sosial media untuk mengurangi membagikan gambar atau lelucon yang mungkin membuat para anggota yang mempunyai keluarga kurang nyaman (wink: wink:)

Tidak mempunyai/memakai platform sosial media. Selain karena beberapa alasan diatas ada juga karena mereka tidak mempunyai sarana komunikasi sosial walaupun saya yakin paling tidak  mereka mempunyai alat komunikasi telepon. Disinilah peran aktif kita untuk menghubungi mereka secara personal dan mudah-mudahan dapat meyakinkan bahwa kita semua ingin bertemu dan berusaha untuk menyambung kembali komunikasi yang sudah lama hilang ataupun jarang. terus terang sebelum saya bergabung dengan para alumnus saya sendiri termasuk yang membatasi jumlah pertemanan di media sosial. Jika 3 minggu yang lalu saya mempunyai 40 orang pertemanan di FB sekarang saya menambah hampir mendekati 20%  (ooppss). Memang sebelum bergabung di alumni FB saya hanya untuk berkomunikasi dengan keluarga dan kolega kerja saja.

Marilah kita bersama-sama untuk mengenyampingkan rintangan-rintangan tersebut. Luangkan waktu untuk sekedar bertemu, bercerita dan saling mengenal kembali. Satu tindakan hari ini, akan sangat berarti dihari nanti.

Nyanyi yuk

You’ve Got A Friend In Me (Toy Story)

You’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me
You just remember what your old pal said,
Boy, you’ve got a friend in me
Yeah, you’ve got a friend in me

You’re gonna see it’s our destiny
You’ve got a friend in me
You’ve got a friend in me
You’ve got a friend
In me!!!!!!!! Yeah!!

Tunggu tulisan berikutnya Sabtu 12 Feb 2017 pukul 18:00 WITA 🙂 mengenai Man Su, Tut Sangging, De jaya dan Nengah Dersana. Kenapa Manzhu Zlatan memakai ID facebook dengan nama tersebut? jangan lupa ya?

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s