Back To Where We Were

3
Sumber photo: kemdikbudbali

Bertemu kembali dengan teman-teman alumni setelah hampir 30 tahun, tentu saja membuat pikiran saya kembali ke masa lalu. Bayangkan saja, berjumpa untuk pertama kalinya di sebuah instansi pendidikan dimana para murid berasal dari berbagai desa tentulah pengalaman yang mendebarkan juga menyenangkan.

Bahkan teman satu desa yang tidak kita kenalpun menjadi tahu, atau tetangga yang tidak bersekolah satu SD pun begitu masuk SMP 1 tiba-tiba saja kita merasa menjadi bagian sesuatu yang baru. Sesuatu yang kami semua tidak tahu akan seperti apa, selain berusaha untuk mem presentasikan diri kita lebih baik bahkan kadang dengan tidak menjadi diri sendiri.

Kelas 1A dan Kelas 1B seperti tempat keramat dimana saya yang berada dikelas 1E merasa rendah diri untuk mengenal mereka, ada rasa kagok untuk sekedar menyapa mereka bahkan mereka mungkin tidak mengetahui hal tersebut tetapi mengingat kembali saat itu jelas terpampang bahwa betapa mindernya saya.

Walaupun begitu, bukan berarti kami menjadi tidak merasa senasib! Tidak pula saya menyebut sebagai bagian kelam karena saat itu lumrah dimasa-masa remaja kita belajar bersosialisasi sebagai kelompok. Bersama-sama menggali potensi diri akan kesukaan yang sama, entah melalui mata pelajaran di sekolah hingga kegiatan ekstrakurikuler yang satupun tidak saya sukai tetapi terpaksa mengikuti hanya karena bagian dari kurikulum.

Apa yang saya ingat dari masa-masa tersebut? Kangkung rebus yang dijual oleh istri dari salah satu guru musik di sekolah kami. Sepertinya itulah salah satu makanan murah tapi menyehatkan yang bisa saya beli, kelak menjadi bagian dari istilah jangan makan kangkung terlalu banyak biar tidak mengantuk

Benarkah?

Entahlah, begitu banyak juga kenangan lain yang saya recreate dan membawa rasa nostalgi kemasa tersebut. Siapa yang tidak mengenal Pak Sutik penjual Soto dan sate legendaris, atau salah satu kesukaan saya membeli ketupat dengan be sere lemo yang rasanya membuat saya ingin kembali mengulangi masa itu. Bahkan saat dikelas 2, dimana saat ulangan umum keputusan guru untuk menggabungkan anak kelas satu dan dua menjadi satu kelas saat ulangan berlangsung ternyata membawa berkah tersendiri, dimana disaat itu adik kelas meminta saya untuk menjawab soal ulangan dia dengan imbalan rupiah.

C’mon I’ll do gladly for Rp. 500,00 no matter what

Dari sekian cerita yang saya ingat adalah saat masuk sore dimana saya selalu dibonceng oleh Kadek Darma yang sekarang berdomisili di Dortmund Jerman. Itulah yang mengakrabkan kami, hingga sekarang, nostalgi yang lucu untuk diingat juga berkesan untuk dikenang. Pertemanan kami selama 30 tahun termasuk putusnya komunikasi karena perpindahan sekolah, sangatlah berarti, kami tidak lagi sekedar berteman tetapi sudah menjadi bagian dari cerita untuk keluarga kami sekarang dan kelak. Kami berusaha untuk saling bertemu entah disaat kami dikampung sendiri hingga saat kami berada di negeri asing.

Terimakasih SMP N 1 Tejakula untuk kesempatan yang telah diberikan untuk kami dan saya khususnya dimana sebuah pertemanan tidaklah menjadi mubazir jika berusaha untuk selalu berusaha berkomunikasi, tanpa ada judgement tanpa ada rasa guilt tetapi keinginan untuk selalu melihat nilai lebih dari sosok tersebut dan bukan hanya kekukarangan jikapun ada.

Nikmati Adele: When We Were Young

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s